Iran Rilis Grafik ‘Zona Bahaya’ di Selat Hormuz, Apa Dampaknya bagi Keamanan Maritim?

Sejumlah media resmi di Iran baru-baru ini mengeluarkan grafik yang menandakan bahwa Garda Revolusi Iran diduga telah menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz selama konflik yang berlangsung. Tindakan ini dipandang sebagai sinyal untuk menekan Amerika Serikat, terutama dalam konteks ketidakpastian mengenai gencatan senjata yang baru berjalan dua minggu serta rencana perundingan yang akan berlangsung di Pakistan dalam waktu dekat.
Menurut laporan yang diperoleh dari berbagai sumber, grafik tersebut diterbitkan oleh kantor berita ISNA dan Tasnim, yang dikenal sebagai kanal berita yang dekat dengan Garda Revolusi. Dalam grafik itu, terdapat lingkaran besar yang mencantumkan tulisan ‘zona bahaya’ dalam bahasa Persia, yang terletak di jalur pelayaran utama, atau yang dikenal sebagai Traffic Separation Scheme. Jalur ini merupakan rute vital bagi kapal-kapal yang beroperasi di selat sempit yang menjadi pintu masuk Teluk Persia, di mana sebelumnya sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia melewatinya.
Grafik tersebut juga memberikan rekomendasi agar kapal-kapal melintasi jalur yang lebih ke utara, mendekati perairan di sekitar Pulau Larak, yang sebelumnya juga digunakan oleh sejumlah kapal selama masa konflik. Meskipun grafik itu mencantumkan tanggal dari 28 Februari hingga 9 April, masih belum jelas apakah ranjau yang terdeteksi di jalur tersebut telah dibersihkan atau tidak.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa kehadiran kapal perang dan pasukan di sekitar Iran akan terus dipertahankan hingga kesepakatan yang ada benar-benar ditaati secara penuh.
Pernyataan Trump di platform Truth Social dianggap sebagai langkah untuk memberikan tekanan kepada Iran.
Trump menegaskan bahwa jika kesepakatan tersebut tidak dipatuhi, meskipun kemungkinan itu kecil, maka konflik dapat kembali dimulai dengan skala yang lebih besar dan lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Ia juga menekankan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan menekankan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan aman.
Baik Amerika Serikat maupun Iran mengklaim telah mencapai kemenangan setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan, dan banyak pemimpin dunia menyambut berita tersebut dengan rasa lega. Namun, meskipun pengumuman itu telah dibuat, serangan drone dan rudal tetap dilaporkan terjadi di Iran serta negara-negara Arab di Teluk.
➡️ Baca Juga: John Herdman Menjelaskan Strategi Kemenangan Timnas Indonesia atas Saint Kitts dan Nevis
➡️ Baca Juga: Rusia Siap Menjadi Mediator Dalam Proses Perdamaian Antara AS dan Iran




