Rupiah Terpuruk, Menko Airlangga Bahas Dampak Terhadap Mata Uang Global

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami penurunan yang signifikan, menembus level psikologis Rp17.100 per US$, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai stabilitas ekonomi nasional. Gejolak di pasar global semakin intensif, memperburuk keadaan.
Data yang dipublikasikan pada penutupan perdagangan Selasa, 7 April 2026, menunjukkan bahwa rupiah berada pada posisi Rp17.105 per US$, mengalami pelemahan sebesar 70 poin atau 0,41 persen dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang tercatat di Rp17.035 per US$. Tren penurunan ini menunjukkan berlanjutnya tekanan terhadap mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir.
Menanggapi situasi ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa tekanan yang dialami rupiah bukanlah masalah yang hanya dihadapi oleh Indonesia saja.
“Ini bukan hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga berbagai mata uang lainnya di seluruh dunia,” kata Airlangga dalam sebuah pernyataan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 7 April 2026.
Tekanan terhadap rupiah terlihat cukup nyata sejak sesi perdagangan siang hingga sore hari, di mana pelemahan sempat mencapai 75 poin sebelum akhirnya ditutup pada kisaran Rp17.100 per US$.
Menurut data dari Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di angka Rp17.090 per US$, yang menunjukkan pelemahan sebesar 58 poin. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatatkan rupiah pada posisi Rp17.092 per US$, turun 55 poin dari hari sebelumnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah merupakan bagian dari tekanan yang dialami mata uang negara-negara berkembang di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Situasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dampak dari konflik geopolitik serta perubahan suku bunga di tingkat global.
Di tengah kondisi yang kurang stabil ini, pasar kini menantikan langkah-langkah lanjutan dari otoritas ekonomi, baik dari Bank Indonesia maupun pemerintah, untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Upaya ini sangat penting guna meredam gejolak yang berpotensi berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.
Tekanan pada rupiah juga menunjukkan bahwa dinamika global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar domestik. Tanpa adanya intervensi dan strategi yang tepat, risiko volatilitas nilai tukar dapat terus berlanjut dalam jangka pendek, menambah tantangan bagi perekonomian nasional.
Mengingat situasi yang tidak menentu, sangat penting bagi para pemangku kepentingan untuk tetap waspada dan proaktif dalam merespons perubahan yang terjadi di pasar global. Upaya kolaboratif antara pemerintah dan pihak terkait akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas perekonomian dan memberikan kepercayaan kepada masyarakat dan investor.
➡️ Baca Juga: Agen BRILink di Merauke Membantu Wanita Tingkatkan Usaha dan Perbaiki Ekonomi Keluarga
➡️ Baca Juga: Cara Efektif Memeriksa Mobil Setelah Perjalanan Jauh Sebelum Digunakan Harian




