Dave Nilai Diplomasi Energi RI-AS Melalui Redefinisi yang Tepat dan Strategis

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, mengungkapkan bahwa penandatanganan perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) lebih dari sekadar angka-angka transaksi. Ini adalah langkah strategis yang mereposisi posisi Indonesia dalam peta geopolitik energi global.
Melalui mandat dari Presiden, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia serta Direktur Utama Pertamina menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya menciptakan ‘keseimbangan baru’. Tujuannya adalah untuk memperkuat neraca perdagangan nasional tanpa mengorbankan kemandirian energi dalam negeri, menurut keterangan tertulis yang disampaikan oleh Dave pada Kamis, 5 Maret 2026.
Dave menilai bahwa keputusan Indonesia untuk menginvestasikan USD 15 miliar dalam pengadaan bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan minyak mentah dari AS merupakan langkah strategis yang lebih mengarah kepada perubahan volume pasokan (shifting) daripada sekadar peningkatan beban impor.
“Dengan mengalihkan sumber pasokan dari berbagai negara ke Amerika Serikat, Indonesia berusaha mendapatkan harga yang lebih kompetitif serta kepastian dalam pasokan,” jelasnya.
Dalam memenuhi kebutuhan LPG nasional yang mencapai 7 juta ton per tahun, Indonesia berupaya meningkatkan ketahanan energi dengan meningkatkan porsi impor dari AS hingga 57 persen dari total volume impor.
Inisiatif strategis Pertamina ini menjadi solusi nyata untuk menutup celah produksi akibat penurunan alami (natural decline) dalam pengangkatan minyak dan gas domestik. Dengan menerapkan skema bisnis yang transparan melalui sistem tender, kolaborasi ini diperluas dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Halliburton.
“Kerja sama dalam teknologi pemulihan ladang minyak ini bertujuan untuk memperlambat penurunan produksi serta mengoptimalkan potensi sumur-sumur minyak yang ada di Indonesia,” ungkapnya.
Di sektor mineral, Dave menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen untuk menerapkan prinsip ekonomi aktif yang bebas dengan memperlakukan semua mitra secara setara sesuai dengan regulasi yang berlaku. Ini termasuk dalam pengelolaan nikel dan Logam Tanah Jarang (LTJ).
“Indonesia telah bertransformasi dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi penyedia nilai tambah melalui proses hilirisasi. Dengan memfasilitasi investor dari Amerika Serikat untuk mendirikan fasilitas pemurnian (smelter) di dalam negeri, Indonesia menegaskan posisinya sebagai pemain utama dalam rantai pasok global yang transparan dan kompetitif,” tegasnya.
Selanjutnya, keberhasilan model investasi Freeport yang meliputi pembangunan smelter senilai USD 14 miliar kini dijadikan cetak biru bagi industri nasional. Melalui rencana perpanjangan konsesi pasca-2035, Indonesia diproyeksikan untuk meningkatkan kepemilikan saham sebesar 12 persen, sehingga total kepemilikan saham mencapai 63 persen.
➡️ Baca Juga: Protes Mahasiswa ITB Tolak Skema UKT via Pinjol
➡️ Baca Juga: Kaesang Didoakan KH Nurul Huda saat Mengunjungi Pesantren Al Falah Ploso




