pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

depo 10k depo 10k
lifestyle

Survei Mengungkap Banyak Pasien Cuci Darah Memulai Hemodialisis Saat Darurat

Survei yang dilakukan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) mengungkap fakta mengejutkan bahwa sembilan dari sepuluh pasien yang menjalani hemodialisis memulainya dalam kondisi darurat. Dari total pasien tersebut, sekitar 70 persen menggunakan kateter double-lumen sebagai akses awal, sedangkan hanya 3,6 persen yang memulai dengan AV fistula atau Cimino.

Data ini lebih dari sekadar angka; ini mencerminkan masalah serius terkait keselamatan pasien yang sudah muncul jauh sebelum sesi hemodialisis pertama dimulai.

“Ketika hampir 90 persen pasien memulai cuci darah dalam keadaan darurat, kita tidak hanya membahas cara pemasangan kateter atau pembuatan Cimino. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, mengapa pasien bisa sampai pada tahap ini tanpa persiapan yang memadai?” ungkap Tony Samosir, Ketua Umum KPCDI, pada Kamis, 17 September 2026.

Tony menekankan bahwa perhatian terhadap keselamatan pasien seharusnya dimulai saat pasien dengan penyakit ginjal kronis masih memiliki waktu untuk memahami kondisi kesehatan mereka. Mereka perlu mempertimbangkan pilihan terapi, mempersiapkan akses, serta berdiskusi dengan dokter dan keluarga. “Keselamatan pasien dialisis tidak dimulai ketika mesin hemodialisis dinyalakan. Ini harus dimulai jauh sebelumnya, ketika pasien memiliki kesempatan untuk dipersiapkan agar tidak terjebak dalam situasi darurat,” tegasnya.

Survei KPCDI juga menunjukkan bahwa masalah tidak berhenti setelah pasien menjalani sesi dialisis pertama. Di antara pasien yang menggunakan kateter, 74 persen melaporkan pernah mengalami demam atau menggigil, 36 persen mengalami gangguan aliran, dan 18 persen harus dirawat di rumah sakit karena komplikasi yang terkait dengan kateter.

Bagi pasien yang memiliki akses permanen, kondisi yang dialami cukup mengkhawatirkan. Sekitar 41 persen mengalami pembengkakan, 37 persen melaporkan pembesaran area akses, 29 persen mengalami kesulitan dengan tusukan jarum yang berulang, dan 22 persen menghadapi masalah saat melakukan kanulasi.

Bagi pasien, kegagalan akses bukanlah hal sepele. Ketika akses mengalami masalah, 21 persen pasien melaporkan waktu hemodialisis mereka pernah dipersingkat, 10 persen harus menghadapi biaya tambahan, 42 persen mencari layanan di fasilitas kesehatan lain, 18 persen harus bepergian ke luar provinsi, dan 19 persen memerlukan rujukan karena unit hemodialisis tidak mampu menangani masalah akses yang mereka hadapi.

“Pasien seharusnya tidak dibiarkan mencari solusi sendiri ketika akses mereka gagal. Jika akses tersebut adalah jalur hidup bagi pasien, maka sistem pelayanan kesehatan harus menyediakan jalur yang jelas untuk menyelamatkan mereka,” tegas Tony.

    ➡️ Baca Juga: 21 Juta Unit Mobil Ditarik Kembali Akibat Masalah pada Kamera Mundur

    ➡️ Baca Juga: Persaingan Alat Elektronik Meningkat ke Segmen Premium, Inovasi dan Teknologi Jadi Kunci Utama

    Related Articles

    Back to top button