Iran Diserang oleh AS dan Israel, Kemlu Serukan WNI untuk Tingkatkan Kewaspadaan

Jakarta – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) terus memantau perkembangan situasi keamanan di Iran dan mengimbau kepada warga negara Indonesia (WNI) untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, mematuhi peraturan setempat, serta menjaga komunikasi dengan Kedutaan Besar RI di Tehran. Kemlu RI mengingatkan WNI di Iran untuk tetap waspada dan menjaga ketenangan.
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa Kedutaan Besar RI di Tehran telah mengonfirmasi terjadinya serangan udara bersenjata di beberapa kota pada pukul 09.45 waktu setempat. Pernyataan ini disampaikan melalui rilis resmi yang diterbitkan di Jakarta pada hari Sabtu.
Yvonne menambahkan bahwa KBRI Tehran berupaya intensif dalam berkomunikasi dengan WNI yang berada di Iran. Mereka juga telah mengeluarkan edaran terbaru yang mencakup rekomendasi dan langkah-langkah konkret untuk menjaga keselamatan dan keamanan warganya.
“Kami akan terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap situasi keamanan yang ada dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi melindungi WNI,” ungkap Yvonne.
Dia juga menginformasikan bahwa dalam situasi darurat, WNI dapat menghubungi hotline KBRI Tehran di nomor +98 9914668845 atau +98 902 466 8889, serta hotline Direktorat Perlindungan WNI di Kemlu RI melalui nomor +62 812-9007-0027.
Sebelumnya, pada tanggal 28 Februari, media melaporkan bahwa Israel dan Amerika Serikat telah meluncurkan serangan terhadap Iran. Ini merupakan serangan kedua yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah aksi serupa yang terjadi pada bulan Juni 2025.
Trump mengklaim bahwa militer AS melaksanakan operasi militer berskala besar di Iran untuk melindungi warganya, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang dianggap berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Dalam beberapa bulan terakhir, AS dan Iran telah melakukan tiga putaran perundingan tidak langsung terkait program nuklir Iran yang dimediasi oleh Oman.
Putaran pertama dan kedua perundingan dilaksanakan awal bulan ini di Muscat dan Jenewa, yang berfokus pada pembatasan pengayaan uranium dan persediaan yang dimiliki Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Sementara itu, putaran ketiga berlangsung pada hari Kamis, 26 Februari di Jenewa.
Pada hari Jumat, 27 Februari, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Al-Busaidi, menyatakan bahwa perundingan nuklir antara AS dan Iran telah mencapai kesepakatan mengenai kebijakan tanpa penimbunan uranium yang diperkaya, dengan pengurangan stok ke tingkat paling rendah dan konversi menjadi bahan bakar permanen yang akan diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
➡️ Baca Juga: 1,4 Juta Kendaraan Kembali ke Jabodetabek Selama Libur Lebaran 2025
➡️ Baca Juga: Proyeksi Trio Gelandang Baru Manchester City: Impian Guardiola
