BPS Laporan: Nilai Tukar Petani Turun 0,08 Persen pada Maret 2026

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, mengumumkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) nasional untuk bulan Maret 2026 tercatat pada angka 125,35. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,08 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu Februari 2026.
Ateng menjelaskan bahwa penurunan NTP ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima oleh petani (It) yang mencapai 0,33 persen. Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar oleh petani (Ib) yang naik sebesar 0,41 persen.
Dalam telekonferensi pers yang berlangsung pada Rabu, 1 April 2026, Ateng juga melaporkan adanya kenaikan harga beras yang terjadi di berbagai tingkat distribusi. Di tingkat penggilingan, harga beras meningkat sebesar 0,54 persen, di tingkat grosir naik 0,96 persen, dan di tingkat eceran mengalami kenaikan sebesar 0,65 persen secara month-to-month (mtm).
Sebelumnya, Ateng juga menginformasikan bahwa inflasi untuk bulan Maret 2026 tercatat sebesar 0,41 persen secara bulanan, yang berarti ada kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,50 pada bulan Februari 2026 menjadi 110,95 pada bulan Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa angka inflasi bulan Maret 2026 ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yang mencatat inflasi sebesar 1,65 persen. Sementara untuk inflasi tahun kalender, angkanya berada di level 0,94 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan adalah makanan, minuman, dan tembakau, dengan inflasi mencapai 1,07 persen. Kontribusi inflasi dari kelompok ini sebesar 0,32 persen.
Ateng juga merinci komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi dalam kelompok tersebut. Di antara komoditas yang dominan adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang masih memberikan kontribusi deflasi pada bulan Maret 2026, di antaranya tarif angkutan udara dan emas perhiasan, yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Lebih lanjut, Ateng menjelaskan bahwa inflasi bulan Maret 2026 didorong terutama oleh inflasi komponen bergejolak, yang memberikan kontribusi inflasi sebesar 0,27 persen. Komoditas yang paling berperan dalam kontribusi inflasi ini antara lain daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi.
Komponen inti juga memberikan andil terhadap inflasi, dengan kontribusi sebesar 0,08 persen. Di antara komoditas yang dominan memberikan andil pada kelompok ini adalah minyak goreng dan nasi dengan lauk.
➡️ Baca Juga: Panduan Memilih Raket Badminton dengan Teknologi Pengendalian Getaran yang Efektif
➡️ Baca Juga: Nelangsa Mitra Dapur MBG Tak Dibayar Yayasan




