Mojtaba Khamenei Menegaskan Tindakan Balas Dendam atas Kematian Ali Khamenei

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, baru-baru ini memberikan pernyataan resmi mengenai kondisi konflik yang tengah berlangsung. Dalam penyampaian yang disiarkan melalui televisi nasional, ia menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan peperangan, tetapi juga tidak akan mengabaikan hak-haknya. Khamenei menekankan pentingnya solidaritas di antara semua front perlawanan, yang dianggap sebagai satu kesatuan.
Ia juga mengajak masyarakat Iran untuk menjauhi interaksi dengan media yang dianggap terafiliasi dengan musuh. Dalam konteks ini, Khamenei menyatakan bahwa Iran berencana untuk mengelola Selat Hormuz dengan pendekatan yang lebih strategis.
Dalam pernyataannya yang terbaru, Mojtaba Khamenei menegaskan komitmennya untuk membalas setiap agresi yang dilancarkan oleh musuh terhadap Iran. Ini termasuk respons terhadap serangan yang terjadi pada 28 Februari lalu, yang mengakibatkan kematian pemimpin tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang juga merupakan ayahnya.
“Iran akan memberikan balasan yang setimpal untuk setiap serangan yang ditujukan kepadanya, dan akan memperbarui pengelolaan Selat Hormuz. Kami berkomitmen untuk membalas kematian Pemimpin Tertinggi dan para ‘martir’ kami,” ungkapnya, seperti yang dilaporkan oleh media.
Kondisi ini muncul di tengah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan. Sementara itu, Israel terus melancarkan serangan di Lebanon, dan Iran tetap berupaya mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Di sisi lain, proses negosiasi perdamaian hingga saat ini masih belum menemukan titik terang.
Baik Teheran maupun Washington saling mengklaim keberhasilan sambil terus memberikan tekanan. Pembicaraan menuju kesepakatan permanen diperkirakan akan segera dimulai di Islamabad, dengan Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS.
Serangan Israel ke Lebanon menjadikan situasi semakin tegang dan menyebabkan hari Rabu menjadi hari paling mematikan di negara tersebut sejak konflik dimulai, dengan lebih dari 300 korban jiwa dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan setempat.
Terdapat ketidakpastian mengenai apakah gencatan senjata ini mencakup kelompok militan Lebanon, Hezbollah. Iran telah memperingatkan akan memberikan respons yang keras jika serangan terhadap Lebanon tidak segera dihentikan.
Negosiasi antara Israel dan Lebanon diperkirakan akan berlangsung dalam waktu dekat di Washington. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkapkan bahwa ia telah setuju untuk terlibat dalam pembicaraan secara langsung.
➡️ Baca Juga: 1,4 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek Selama Arus Mudik 2026, H-3 Lebaran Mencetak Rekor Tinggi
➡️ Baca Juga: Peluang Kerja Sampingan Freelance yang Minim Persaingan di Pasar Digital Modern




