Imbas Gencatan Senjata AS-Iran, Harga Bitcoin Melonjak Tembus Rp1,2 Miliar

Jakarta – Ketegangan yang mereda antara Amerika Serikat dan Iran baru-baru ini telah memicu lonjakan yang signifikan di pasar cryptocurrency, dengan Bitcoin menjadi sorotan utama. Pasca pengumuman gencatan senjata selama dua minggu, harga Bitcoin mengalami kenaikan yang mencolok, bahkan sempat menembus level psikologis US$72.000, yang setara dengan sekitar Rp1,22 miliar berdasarkan kurs Rp17.000.
Dalam hitungan jam setelah pengumuman tersebut, Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 5 persen, mencapai puncak harian di kisaran US$72.753. Meskipun kemudian mengalami sedikit penurunan, harga aset digital ini tetap stabil di atas angka US$71.000.
Ini merupakan kali pertama sejak pertengahan Maret bahwa Bitcoin, sebagai aset kripto terbesar di dunia, berhasil kembali ke level harga tersebut.
Presiden AS, Donald Trump, dalam pernyataannya, mengungkapkan bahwa ia akan menunda serangan dan pemboman terhadap Iran selama dua minggu. Di sisi lain, Iran menyebut kesepakatan tersebut sebagai “gencatan senjata bilateral” yang membuka peluang untuk negosiasi lebih lanjut.
Sebelumnya, Teheran telah mengajukan proposal 10 poin yang dinyatakan Trump sebagai “dasar yang layak” untuk melanjutkan pembicaraan.
Reaksi pasar cryptocurrency terhadap perkembangan ini terbilang sangat cepat. Selain Bitcoin, sejumlah aset digital lainnya seperti Ethereum, Solana, dan XRP juga mencatatkan kenaikan signifikan dalam kurun waktu 24 jam. Namun, Bitcoin tetap menjadi indikator utama yang mencerminkan sentimen pasar secara keseluruhan.
Kenaikan harga Bitcoin ini tidak terlepas dari perubahan drastis dalam sentimen investor. Sebelumnya, indeks Crypto Fear and Greed berada pada level “ketakutan ekstrem”, mencerminkan kekhawatiran yang tinggi di tengah konflik yang semakin memanas.
Namun, setelah adanya sinyal deeskalasi, sentimen pasar berbalik menjadi lebih optimis, memicu aksi beli yang luas. Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa reli ini bersifat sementara dan sangat bergantung pada perkembangan situasi dalam dua minggu ke depan.
“Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah apakah negosiasi akan menunjukkan kemajuan dalam dua minggu ke depan. Hal ini akan menentukan apakah kenaikan ini hanya bersifat sementara atau berpotensi menjadi deeskalasi yang lebih berkelanjutan,” ujar Charu Chanana, seorang analis dari Saxo, seperti yang dilaporkan oleh Trending Topics pada Rabu, 8 April 2026.
Di sisi lain, pergerakan pasar energi menunjukkan tren yang berbeda. Harga minyak dunia justru mengalami penurunan tajam setelah sebelumnya melonjak akibat penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen distribusi minyak global.
➡️ Baca Juga: Kegiatan Sosial: Masyarakat Bersatu Membantu Korban Bencana
➡️ Baca Juga: Kata Jokowi soal Tudingan Gratifikasi Jet Pribadi Kaesang




