pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

depo 10k depo 10k
lifestyle

Ruang Digital Memperkuat Peran Komunitas Tionghoa Dalam Pembangunan Indonesia

Forum Sinologi Indonesia (FSI) menekankan pentingnya peran teknologi digital dalam memperkuat persatuan di tengah keragaman masyarakat Indonesia. Menurut Johanes Herlijanto, seorang pemerhati Tionghoa dan pengajar di Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan, partisipasi aktif masyarakat Tionghoa mencerminkan peningkatan keterlibatan mereka dalam kehidupan kebangsaan Indonesia yang semakin signifikan.

Johanes menambahkan bahwa penting untuk mendiskusikan partisipasi masyarakat Tionghoa, karena fenomena ini menunjukkan kepedulian terhadap berbagai isu di Indonesia, baik di tingkat lokal maupun nasional. Dia juga menggarisbawahi bahwa perubahan ini menandakan pergeseran dari pandangan lama yang menganggap masyarakat Tionghoa hanya unggul dalam aspek ekonomi, sementara lemah di bidang lainnya.

“Isu mengenai loyalitas etnis Tionghoa tidak lagi relevan untuk dipertanyakan, karena mereka aktif berkontribusi dalam proses pembangunan bangsa Indonesia yang terus berjalan,” tegasnya, dalam sebuah wawancara yang dilaksanakan pada Jumat, 11 September 2026.

Dalam konteks perkembangan teknologi, Dr. Isyak Meirobie, Asisten Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, mengangkat tantangan yang muncul dengan penggunaan media digital. Ia menjelaskan bahwa algoritma dapat memicu polarisasi, namun pada saat yang sama, teknologi tersebut juga memiliki potensi untuk mempertemukan masyarakat.

“Nasionalisme Indonesia seharusnya menjadi bagian integral dari istilah ‘kita’,” ujar Isyak.

Isyak juga menyatakan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan hal-hal positif, termasuk pesan yang menekankan semangat kebersamaan dalam berbangsa. Pemanfaatan ruang digital secara konstruktif menjadi sangat penting, mengingat media sosial kini menjadi saluran utama bagi masyarakat untuk berinteraksi dan mendapatkan informasi.

Tantangan yang dihadapi semakin mendesak untuk diperhatikan, karena algoritma digital berpotensi membuat pengguna hanya menerima informasi yang sesuai dengan minat atau pandangan mereka. Jika tidak dihadapi secara kritis, kondisi ini dapat mempersempit ruang dialog dan memperkuat polarisasi di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.

Oleh karena itu, teknologi digital seharusnya tidak hanya dilihat sebagai alat untuk mempercepat penyebaran informasi. Ruang digital juga dapat berfungsi sebagai platform untuk memperluas interaksi antarkelompok dan memperkenalkan berbagai bentuk kontribusi masyarakat terhadap pembangunan Indonesia.

Lidya Christin Sinaga, seorang peneliti di Pusat Riset Politik BRIN, berpendapat bahwa partisipasi masyarakat Tionghoa adalah fenomena yang terus berkembang seiring dengan proses demokratisasi. Ia mencatat adanya pergeseran dari interaksi yang awalnya terbatas dalam kalangan masyarakat Tionghoa menuju hubungan yang lebih inklusif dengan berbagai kelompok dengan identitas etnis dan agama yang berbeda.

    ➡️ Baca Juga: Purbaya Ingatkan K/L untuk Efisiensi dan Pemangkasan Anggaran, Ini Penyebabnya

    ➡️ Baca Juga: Menkeu AS Minta Trump Tunda Serangan ke Iran, Namun Ia Menolak Permintaan Tersebut

    Related Articles

    Back to top button