Prediksi Kenaikan Kebutuhan Listrik Nasional dalam 30 Tahun Mendatang

Kenaikan kebutuhan listrik nasional diperkirakan akan meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang. Konsumsi listrik Indonesia, yang diproyeksikan mencapai 539 TWh pada tahun 2025, diharapkan meloncat menjadi 1.813 TWh pada tahun 2060.
Sektor rumah tangga diprediksi akan menjadi kontributor utama dalam lonjakan ini, dengan kontribusi sekitar 28 persen dari total kebutuhan listrik nasional. Selain itu, penggunaan kendaraan listrik juga diperkirakan menyumbang sekitar 11 persen dari total konsumsi.
Peningkatan kebutuhan listrik ini sejalan dengan ambisi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai angka 8 persen. Di sisi lain, peningkatan konsumsi listrik menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam mencapai target net zero emissions dan mengurangi emisi karbon melalui proses dekarbonisasi.
Salah satu faktor penting yang mendorong permintaan listrik dari sektor rumah tangga adalah rencana untuk beralih dari penggunaan kompor LPG ke kompor induksi atau kompor listrik. Penelitian yang dilakukan oleh Tenggara Strategics bekerja sama dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia menunjukkan bahwa program ini berpotensi menjadi sumber utama permintaan listrik di kalangan rumah tangga.
Jika proses konversi dari kompor LPG ke kompor induksi dilaksanakan sepenuhnya, tambahan kebutuhan listrik yang diperkirakan akan muncul berkisar antara 27,62 GW hingga 53,43 GW. Besarnya tambahan ini akan sangat bergantung pada tingkat efisiensi kompor induksi yang digunakan.
Permintaan listrik yang tambahan dari program konversi ini dapat menjadi sumber kebutuhan listrik yang stabil dan handal, yang dapat mendukung pengembangan program energi surya dengan kapasitas hingga 100 GWp.
Penggunaan kompor LPG saat ini diketahui memberikan kontribusi yang signifikan terhadap konsumsi energi rumah tangga, mencapai sekitar 41,46 persen. Selain itu, Indonesia masih bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dengan sekitar 77,6 persen dari total konsumsi LPG nasional berasal dari impor. Oleh karena itu, program konversi ke kompor induksi diharapkan dapat menghemat devisa dan subsidi, terutama jika menggunakan kompor induksi yang paling efisien.
Di samping itu, elektrifikasi transportasi melalui adopsi kendaraan listrik (EV) juga merupakan komponen penting dalam upaya dekarbonisasi dan mendukung industrialisasi di Indonesia. Pada tahun 2025, diperkirakan sekitar 23.660 kiloliter (KL) atau sekitar 65 persen dari total konsumsi bensin nasional masih harus dipenuhi melalui impor. Dengan meningkatnya adopsi EV, ketergantungan terhadap impor dapat berkurang, di mana setiap tambahan satu juta kendaraan listrik dapat menghemat sekitar 1.250 KL konsumsi bensin per tahun.
➡️ Baca Juga: Mesin Gol Kembali Beraksi dan Siap Menggempur Pertandingan Selanjutnya
➡️ Baca Juga: Arsenal Kalah 0-3 dari Brighton, Mengakhiri Rekor Sempurna The Gunners




