Penyebab Serangan Jantung Mendadak Meski Merasa Sehat Menurut Dokter

Penyakit jantung sering kali dianggap sebagai masalah yang hanya perlu dikhawatirkan ketika gejala seperti nyeri dada atau sesak napas mulai muncul. Namun, penting untuk menyadari bahwa gangguan pada pembuluh darah jantung dapat berkembang secara perlahan, tanpa menunjukkan tanda-tanda yang jelas selama bertahun-tahun.
Kondisi ini menyebabkan banyak individu baru menyadari adanya masalah jantung setelah mengalami serangan jantung. Oleh karena itu, memahami faktor risiko dan menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin sangatlah penting, terutama bagi mereka yang berada dalam kelompok berisiko tinggi.
Isu ini kembali menjadi sorotan pada peringatan Hari Jantung Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 29 September. Di Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi salah satu beban kesehatan yang cukup signifikan.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mencatat bahwa pembiayaan untuk perawatan penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk stroke, telah menyerap sekitar Rp23 triliun dari dana BPJS Kesehatan.
Biaya untuk penanganan penyakit ini tidaklah sedikit. Sebagai contoh, pemasangan ring jantung dapat memakan biaya antara Rp40 juta hingga Rp60 juta. Sementara itu, biaya untuk operasi bypass jantung mencapai sekitar Rp150 juta, dan penggantian katup jantung dapat berkisar hingga Rp200 juta.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menyatakan bahwa banyak kasus penyakit jantung terkait dengan faktor risiko yang tidak terkelola dengan baik sejak awal.
Masalahnya, berbagai faktor tersebut sering kali muncul tanpa disadari. Tekanan darah tinggi, kadar gula dan kolesterol yang tinggi, kebiasaan merokok, serta kelebihan berat badan bisa berlangsung dalam waktu lama sebelum gejala yang mengganggu mulai muncul.
Datin Dr. Ong Mei Lin dari Gleneagles Hospital Penang, bagian dari jaringan IHH Healthcare Malaysia, menekankan bahwa pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa merasa sehat tidak selalu mencerminkan kondisi jantung yang aman.
“Banyak pasien yang datang kepada kami dengan keluhan serangan jantung mengaku sebelumnya merasa baik-baik saja. Namun, tekanan darah, gula darah, atau kolesterol mereka sudah lama tinggi dan tidak pernah diperiksa. Skrining memang tidak bisa mencegah semua kasus, tetapi memberikan kesempatan untuk tindakan lebih awal,” ujarnya dalam keterangannya yang dirilis pada Rabu (7/10/2026).
Siapa yang sebaiknya melakukan skrining?
Skrining jantung sangat dianjurkan bagi individu dewasa yang berusia di atas 40 tahun. Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan dengan lebih serius oleh mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
Dengan kesadaran akan faktor risiko dan pentingnya pemeriksaan kesehatan, kita bisa mengambil langkah proaktif dalam mengelola kesehatan jantung kita. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa kita tidak hanya merasa sehat, tetapi juga benar-benar menjaga jantung kita tetap dalam kondisi optimal.
Jangan abaikan gejala yang mungkin terlihat sepele, karena mereka bisa jadi sinyal peringatan dari tubuh. Melalui skrining yang rutin dan pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan jantung, kita bisa mencegah serangan jantung mendadak yang mungkin terjadi tanpa tanda-tanda sebelumnya.
Penting untuk mengevaluasi gaya hidup kita, termasuk pola makan, aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok. Mengadopsi gaya hidup sehat bisa menjadi kunci untuk mengurangi risiko penyakit jantung.
Dengan langkah-langkah proaktif ini, kita bisa lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat mengancam kesehatan jantung kita. Mari kita jaga kesehatan, bukan hanya dengan merasa baik, tetapi dengan tindakan nyata yang mendukung kesehatan jantung kita.
➡️ Baca Juga: Kasus Kematian Mahasiswa UKI: Kapolres Jaktim Beri Keterangan
➡️ Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Akibat Lonjakan Drastis Harga Minyak Dunia




