Investor Tertarik pada Proyek Pembangunan Penyimpanan Minyak Mentah, Kata Bahlil

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menginformasikan bahwa saat ini terdapat minat dari investor asing untuk berpartisipasi dalam pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah di Indonesia.
“Investasi sudah ada, dan investor telah siap berpartisipasi,” ungkap Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu malam, 4 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa proyek pembangunan penyimpanan minyak mentah ini akan melibatkan kolaborasi antara investor lokal dan asing. Namun, dia mengonfirmasi bahwa investor asing tersebut bukan berasal dari Amerika Serikat.
“Investasi akan melibatkan kombinasi dari dalam negeri dan luar negeri, tetapi bukan AS. Proyek penyimpanan ini akan dikelola oleh pihak swasta,” tambah Bahlil.
Dengan demikian, peran sektor swasta akan sangat penting dalam pengembangan fasilitas penyimpanan minyak mentah di tanah air.
Tujuan dari pembangunan ini adalah untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, memungkinkan Indonesia untuk menyimpan minyak mentah selama tiga bulan, yang sebelumnya hanya mampu menyimpan selama 25-26 hari.
“Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar proyek penyimpanan ini segera direalisasikan. Kita perlu memastikan ketahanan energi kita, agar tidak terus bergantung pada pihak lain,” jelas Bahlil.
Ketahanan energi Indonesia memang tengah menjadi perhatian publik, terutama terkait dampak dari konflik internasional, seperti ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel.
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk ibukota Teheran. Serangan ini dilaporkan mengakibatkan kerusakan signifikan dan korban sipil di kawasan tersebut.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Pada 1 Maret 2026, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.
Televisi pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian Khamenei akibat serangan itu. Media di Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “efektif” ditutup sebagai dampak dari serangan AS-Israel, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai blokade.
Perlu dicatat bahwa Selat Hormuz adalah jalur strategis yang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak dunia dan sejumlah besar ekspor gas alam cair dari negara-negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 juta barel minyak yang dikonsumsi secara global setiap harinya melewati selat ini.
➡️ Baca Juga: POCO Buka Suara Tanggapi Tarif Timbal Balik AS untuk Ponsel Pintar
➡️ Baca Juga: Jalan di Kebon Manggis Ambles akibat Turap Longsor

