Iran Siap Pasang Ranjau Laut di Teluk Persia Jika AS Ambil Tindakan Tertentu

Dewan Pertahanan Iran telah memberikan peringatan tegas bahwa setiap bentuk agresi militer terhadap wilayah mereka akan direspon dengan penutupan akses jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia. Pernyataan ini muncul pada Senin, 23 Maret, dan diperkirakan berkaitan dengan rencana Iran untuk memasang ranjau laut di seluruh area tersebut.
Langkah yang cukup radikal ini akan diambil jika Amerika Serikat (AS) melanjutkan tindakan militer yang mengancam wilayah pesisir atau pulau-pulau strategis Iran. Jika Iran benar-benar melaksanakan rencana peletakan ranjau, situasi ini akan berpotensi mengganggu distribusi minyak global secara signifikan.
“Setiap upaya untuk melancarkan serangan terhadap pantai atau pulau-pulau Iran akan mengakibatkan seluruh jalur akses di Teluk dipenuhi dengan berbagai jenis ranjau laut, termasuk ranjau terapung yang dapat diletakkan dari garis pantai,” ungkap Dewan Pertahanan Iran yang dikutip oleh media internasional pada Selasa, 24 Maret 2026.
Iran menegaskan bahwa konsekuensi dari tindakan ini tidak akan bersifat temporer. Seluruh kawasan Teluk kemungkinan akan berada dalam kondisi serupa dengan situasi di Selat Hormuz untuk jangka waktu yang lama.
Pemerintah Iran juga mengingatkan kepada dunia tentang kegagalan yang dialami oleh 100 kapal penyapu ranjau pada dekade 1980-an, yang hanya berhasil membersihkan sebagian kecil dari ranjau laut yang ada.
Ancaman ini muncul bersamaan dengan laporan bahwa AS sedang mempertimbangkan langkah-langkah strategis untuk menekan Iran, termasuk rencana untuk menguasai atau memblokade Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor utama minyak Iran. Tindakan ini diharapkan dapat memaksa Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Donald Trump dikabarkan telah mengeluarkan ultimatum kepada Iran agar membuka akses jalur pelayaran tersebut bagi semua kapal. Ia bahkan mengancam akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran jika tuntutan ini tidak dipenuhi dalam waktu 48 jam, yang akan berakhir tepat sebelum tengah malam GMT pada Selasa, 24 Maret 2026.
Sementara itu, situasi militer di kawasan semakin memanas. Israel telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur di Teheran, sementara beberapa negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait tengah memperkuat sistem pertahanan mereka untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan.
Eskalasi konflik ini telah memicu kekhawatiran di pasar global, terutama terkait dengan pasokan energi. Jika Iran benar-benar melaksanakan rencana untuk memasang ranjau di Teluk Persia, jalur distribusi minyak dunia bisa mengalami gangguan serius, yang berpotensi meningkatkan harga energi dan menambah tekanan inflasi di seluruh dunia.
➡️ Baca Juga: Tren Film yang Akan Menguasai Tahun Ini
➡️ Baca Juga: Lionel Messi Cetak Gol Free Kick Ikonik dan Bikin Orlando City Merasa Panas




