Lima Strategi Pertamina 2026 untuk Menghadapi Dinamika Geopolitik Global

Jakarta – Di tengah ketegangan yang melanda arena geopolitik global, PT Pertamina (Persero) menunjukkan komitmennya untuk terus berkembang dan mempertahankan pertumbuhan bisnis. Optimisme ini akan diwujudkan melalui lima strategi yang dirumuskan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan 2026 (RKAP), yang bertujuan untuk menghadapi fluktuasi pasokan dan harga energi di tingkat dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri di Grha Pertamina, Jakarta, pada Selasa, 7 April 2026.
Simon menjelaskan bahwa Pertamina telah menghadapi tahun 2025 yang dipenuhi berbagai tantangan, termasuk tekanan dari kondisi ekonomi global, ketidakstabilan harga energi, serta meningkatnya kompleksitas dalam operasional perusahaan.
“Namun, meski di tengah semua tantangan tersebut, Pertamina tetap berdiri kokoh sebagai pilar utama yang menopang kehidupan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa Pertamina bukan sekadar sebuah entitas bisnis, tetapi juga merupakan bagian dari solusi bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.
RKAP 2026 yang disusun oleh Pertamina mempertimbangkan dinamika geopolitik global yang berpotensi mengganggu sektor energi dan perekonomian. Ketegangan di kawasan Timur Tengah serta peningkatan tekanan di jalur strategis seperti Selat Hormuz telah berkontribusi pada fluktuasi pasokan dan harga energi di seluruh dunia.
Simon menekankan lima strategi krusial yang akan membantu Pertamina menavigasi tantangan ini. Pertama, menjaga disiplin biaya yang ketat di seluruh lini operasi. Kedua, memastikan operasional perusahaan semakin efisien dan andal. Ketiga, melakukan investasi secara selektif dengan fokus pada proyek-proyek yang benar-benar strategis.
Keempat, membangun organisasi yang lebih lincah dalam merespons perubahan yang cepat. Kelima, terus mendorong inovasi yang menjadi kebutuhan utama dalam menghadapi dinamika bisnis di sektor energi.
Simon juga menambahkan bahwa Pertamina berupaya menjadikan tantangan geopolitik sebagai peluang. Salah satu langkah yang diambil adalah mendorong efisiensi dan meningkatkan operasional, seperti pemanfaatan kilang secara optimal. Melalui langkah ini, Pertamina berharap dapat meningkatkan volume penjualan produk energi berkualitas.
“Di tengah gejolak global yang semakin kompleks, peran Pertamina sebagai Soko Guru Energi, atau penopang ketahanan energi nasional, menjadi semakin vital. Eksistensi Pertamina di tahun 2026 bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan, tetapi juga tentang ketahanan, keandalan, dan kedaulatan energi nasional. Oleh karena itu, Pertamina tidak bisa bekerja dengan cara yang biasa-biasa saja,” tegasnya.
Mochamad Iriawan, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), menambahkan bahwa ketahanan energi merupakan prioritas utama bagi Pertamina. Dalam jangka pendek, perusahaan berkomitmen untuk menjaga pasokan energi agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
➡️ Baca Juga: Mengenal Pengacara Top di Indonesia: Peran Penting dalam Hukum
➡️ Baca Juga: Jam Operasional Transjakarta Selama Lebaran Dimulai Pukul 09.00 Pagi




