Indonesia Desak PBB Lakukan Investigasi Menyeluruh Terkait Tewasnya 3 Prajurit TNI di Lebanon

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengadakan rapat darurat pada tanggal 31 Maret 2026. Pertemuan ini diselenggarakan sebagai tanggapan terhadap insiden tewasnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi UNIFIL di Lebanon, yang terjadi akibat konflik antara Israel dan Hizbullah.
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs PBB, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, membahas serangan yang terjadi antara Hizbullah dan Israel. Lacroix menjelaskan bahwa Hizbullah telah melancarkan serangan harian dengan menggunakan roket, rudal, dan drone ke berbagai target di Israel, serta ke wilayah Dataran Tinggi Golan Suriah yang berada di bawah pendudukan.
“Politisi di Israel saat ini secara terbuka menyatakan keinginan mereka untuk memperluas yang disebut ‘zona keamanan atau zona penyangga’ dengan menghancurkan desa-desa yang berada di sepanjang Garis Biru, yang merupakan garis penarikan sepanjang 120 km antara Lebanon dan Israel, serta beberapa jembatan di Sungai Litani,” ujarnya pada Rabu, 1 April 2026.
Lacroix juga menekankan bahwa Pasukan Pertahanan Israel telah mengeluarkan perintah pengungsian untuk area yang menjadi lokasi operasi UNIFIL.
Pada 30 Maret, ia mengungkapkan bahwa dua anggota pasukan penjaga perdamaian Indonesia kehilangan nyawa akibat sebuah ledakan yang menghancurkan kendaraan mereka, sementara dua hari sebelumnya, seorang prajurit penjaga perdamaian Indonesia lainnya juga tewas dalam ledakan yang terjadi di dalam pangkalan UNIFIL.
“Misi ini tengah menghadapi peningkatan pembatasan dalam kebebasan bergerak, yang ditandai dengan perilaku agresif,” tambahnya.
Pada 28 Maret, pasukan Israel di sebuah pos pemeriksaan baru melepaskan tembakan peringatan sebelum menyerang patroli UNIFIL dengan senjata utama.
“Kami ingin menegaskan kembali, dan ini sudah terlalu sering diulang, bahwa penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target,” tegas Lacroix.
Pertukaran tembakan yang sengit juga berlangsung di sepanjang Garis Biru. Khaled Khiari, Asisten Sekretaris Jenderal untuk kawasan Timur Tengah dan wilayah lainnya, menyebutkan adanya baku tembak besar, serangan di berbagai lokasi di Lebanon, serta pengerahan pasukan Israel yang lebih dalam ke wilayah tersebut. Hingga 30 Maret, pihak berwenang Lebanon melaporkan lebih dari 1.240 orang tewas dan 3.680 lainnya terluka, dengan lebih dari 1,1 juta orang terpaksa mengungsi.
Pada 29 Maret, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan rencana untuk memperluas zona penyangga dengan tujuan untuk secara permanen menghilangkan ancaman invasi serta menjauhkan serangan dari wilayah utara Israel. Lebanon menilai tindakan ini sebagai pelanggaran kedaulatan dan menyatakan kesediaan untuk bernegosiasi secara langsung di bawah pengawasan internasional. Sementara itu, penolakan Hizbullah terhadap keputusan pemerintah Lebanon meningkatkan risiko terjadinya eskalasi lebih lanjut.
➡️ Baca Juga: Dapatkan Penghasilan dengan Menawarkan Jasa Edit Foto untuk Katalog Produk secara Online
➡️ Baca Juga: Realme 16 5G: Smartphone Tipis dengan Daya Tahan Baterai Mirip Powerbank, Cuma Rp5 Jutaan




