Amazon Lakukan PHK Karyawan di Tiga Negara, Dampak Terhadap Kurang dari 1.000 Posisi

Amazon.com Inc. kembali mengambil langkah drastis dengan mengurangi jumlah tenaga kerjanya di beberapa unit bisnis. Kali ini, dampak pemangkasan ini dirasakan oleh kurang dari 1.000 posisi yang tersebar di tiga negara: Amerika Serikat, India, dan Inggris. Proses pengurangan ini mencakup beragam tim, termasuk layanan pelanggan, dukungan untuk marketplace, serta rekayasa teknologi yang terkait dengan bisnis ritel perusahaan.
Menurut laporan dari Business Insider, sejumlah karyawan menerima email yang menginformasikan bahwa posisi mereka telah dihapus. Pesan tersebut juga dibagikan melalui saluran Slack internal yang memiliki hampir 37.000 anggota, menunjukkan bahwa pemangkasan ini mencakup berbagai fungsi operasional dalam perusahaan.
Karyawan yang terkena dampak pemangkasan ini pun menyuarakan kekhawatiran mengenai ketentuan pesangon, akses terhadap lowongan pekerjaan internal, dan kemungkinan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih lanjut. Situasi ini menambah ketidakpastian bagi mereka yang terlibat dalam restrukturisasi ini.
Amazon menjelaskan bahwa pemangkasan jabatan ini hanya menyasar sejumlah kecil posisi, terutama di unit bisnis Stores. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk merestrukturisasi perusahaan guna mempercepat proses kerja dan mendukung prioritas yang telah ditetapkan. Perusahaan juga menegaskan bahwa mereka akan memberikan dukungan kepada karyawan yang terkena dampak selama masa transisi ini.
Pengurangan tenaga kerja terbaru ini menambah daftar panjang pemangkasan yang telah dilakukan oleh Amazon dalam waktu dekat. Pada bulan Januari 2026, perusahaan tersebut mengonfirmasi bahwa sekitar 16.000 posisi di seluruh organisasi akan dipangkas. Dalam komunikasi kepada karyawan, Amazon menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan untuk mengurangi lapisan organisasi, meningkatkan tanggung jawab individu, dan menghilangkan birokrasi yang ada.
Sebelumnya, Amazon juga mengumumkan pengurangan 14.000 posisi korporat pada bulan Oktober 2025. Dengan demikian, total pengurangan tenaga kerja yang direncanakan kini mencapai sekitar 30.000 posisi, yang setara dengan sekitar 1 persen dari total 1,56 juta karyawan yang dimiliki perusahaan.
Pemangkasan sebelumnya telah mencakup sejumlah unit bisnis, termasuk Amazon Web Services (AWS), ritel, Prime Video, serta People Experience and Technology. Pengurangan terbaru yang lebih terfokus pada bisnis Stores menunjukkan bahwa proses penataan organisasi masih berlangsung di berbagai bagian perusahaan.
Di sisi lain, Amazon juga dilaporkan sedang mencari mantan karyawan, termasuk mereka yang terkena PHK, untuk mengisi posisi di bidang kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada pengurangan tenaga kerja, perusahaan tetap berusaha untuk berkembang di sektor yang semakin penting ini.
Organisasi AI Amazon yang dipimpin oleh Wakil Presiden AWS, Swami Sivasubramanian, dilaporkan telah meluncurkan inisiatif bernama “Swami’s Boomerang Reengagement Initiative.” Program ini bertujuan untuk membangun kembali hubungan dengan mantan karyawan yang memiliki keahlian dalam bidang AI dan pembelajaran mesin (machine learning), menunjukkan bahwa perusahaan menghargai pengalaman dan keterampilan yang telah dimiliki oleh mantan pekerjanya.
➡️ Baca Juga: Skandal Akademis: Apa yang Terjadi di Balik Layar?
➡️ Baca Juga: Jadwal Malam Lailatul Qadar 2026: Ketahui Tanggal dan Amalan Penting untuk Memaksimalkan Keberkahan




