PSSI Sampaikan Berita Mengece untuk Suporter Yang Selalu Bersuara Keras

Jakarta – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) masih mempertimbangkan untuk mempertahankan larangan bagi suporter tim tamu pada musim mendatang. Keputusan ini diambil mengingat masih adanya sejumlah kejadian kerusuhan yang terjadi selama berlangsungnya kompetisi.
Anggota Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga, menyatakan bahwa tindakan anarkis dari sebagian suporter menjadi alasan utama federasi enggan mencabut larangan tersebut.
“Jika perilaku suporter tidak berubah, jangan salahkan federasi jika aturan ini tetap diterapkan. Kita belum menunjukkan kedisiplinan dan kemampuan untuk menjaga ketertiban. Setiap saat masih terjadi aksi lempar-lemparan, bahkan ada kursi stadion yang dibongkar,” ungkap Arya pada Jumat, 6 Maret 2026.
Larangan bagi suporter tandang telah diterapkan selama dua tahun terakhir setelah terjadinya insiden tragis yang mengguncang dunia sepak bola Indonesia, yaitu Tragedi Kanjuruhan.
Menurut Arya, PSSI memerlukan bukti konkret bahwa suporter dapat menjaga sikap positif di dalam stadion sebelum mereka berani mencabut larangan tersebut.
Ia juga mengungkapkan bahwa pernah ada satu pertandingan yang berlangsung dengan baik dengan kehadiran suporter tim tamu. Namun, satu contoh positif tersebut dinilai belum cukup untuk menjadi dasar dalam membuka kembali akses bagi suporter tandang.
“Memang ada satu laga away yang berjalan dengan baik. Namun, ada yang berkata kepada saya, ‘Ini bagus, ayo buka lagi suporter away.’ Tapi itu baru satu pertandingan, sementara ini menyangkut keselamatan,” jelasnya.
Arya mengingatkan para suporter untuk kembali fokus pada tujuan utama mereka datang ke stadion, yaitu untuk menikmati pertandingan tanpa menimbulkan kericuhan.
“Kita datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan. Misalnya, jika masuk dengan baju putih, ya keluar juga tetap baju putih. Jangan sampai ada kejadian yang membahayakan. Tidak perlu ada korban lagi hanya karena emosi di stadion,” tegasnya.
Selain itu, PSSI juga sedang memantau situasi kompetisi menjelang akhir musim, yang dinilai cukup rawan karena persaingan ketat baik di papan atas maupun bawah klasemen.
Diskusi intensif dilakukan bersama pihak keamanan, termasuk perwakilan kepolisian, untuk memastikan kondisi kompetisi tetap aman hingga akhir musim.
“Sekarang ini situasinya memang sangat sensitif. Di kompetisi papan atas, perebutan gelar juara sangat ketat, sementara di papan bawah juga sengit karena ada ancaman degradasi. Di Liga 2 juga sama, persaingan promosi sangat panas. Jadi, perlu perhatian khusus,” ujar Arya.
➡️ Baca Juga: Layanan Hukum Korporat: Tingkatkan Bisnis Anda
➡️ Baca Juga: Adopsi Teknologi AI di Sektor Kesehatan Nasional




