Analisa rtp pada meja poker profesional

Analisis mendalam rtp baccarat live

Bocoran rtp live untuk permainan adu kartu

Cara hitung rtp manual saat bermain baccarat

Cara menghitung rtp dalam permainan baccarat

Korelasi rtp dan manajemen modal di kasino

Memahami angka rtp pada meja live casino

Memahami rtp dalam permainan baccarat live

Mengenal konsep rtp di permainan dragon tiger

Panduan rtp untuk taruhan sic bo online

Cara nyata pahami peluang dalam permainan

Cara sederhana nilai kesempatan main gambling

Langkah mudah menilai chance game populer

Metode praktis lihat kesempatan menang game

Panduan harian melihat momen tepat bermain

Panduan ringan menganalisa momen bermain game

Rahasia ringkas menghitung peluang saat bermain

Strategi santai baca peluang game untung

Tips cerdas amati pola kemenangan game

Trik santai membaca arah permainan gambling

Memahami alur mahjong wins secara bertahap

Membaca alur permainan mahjong ways dari pengalaman

Membaca detail grid di mahjong wins 3

Membaca perubahan tempo di mahjong wins

Menikmati mahjong ways sebagai hiburan visual

Pendekatan visual yang membuat mahjong ways menarik

Pengalaman pemain dalam menikmati mahjong ways

Refleksi santai pemain mahjong wins

Ritme bermain mahjong wins untuk sesi ringan

Ritme permainan mahjong ways yang lembut

Pentingnya angka rtp bagi pemain kasino pemula

Rahasia dibalik angka rtp kasino online

Rahasia menang main poker dengan acuan rtp

Rutinitas cek rtp sebelum bermain roulette

Statistik rtp baccarat minggu ini

Strategi blackjack dengan rtp paling menguntungkan

Strategi rtp terbaik untuk pemain baccarat

Teknik taruhan bertahap berdasarkan update rtp

Tips memilih dealer berdasarkan data rtp live

Trik menang cepat dengan melihat indikator rtp

news

Pendaki Temukan Dunia Purba 280 Juta Tahun yang Hilang

Pendaki Pada tahun 2023, seorang pendaki Temukan bernama Claudia Steffensen melakukan perjalanan di Taman Pegunungan Valtellina Orobie, Lombardy, Italia. Saat berjalan di belakang suaminya, Claudia menginjak sebuah batu yang permukaannya tampak tidak biasa.

“Saya kemudian melihat desain melingkar aneh dengan garis-garis bergelombang. Saya melihat lebih dekat dan menyadari bahwa itu adalah jejak kaki,” kata Steffensen.

Ekosistem Purba dari Zaman Permian

Jejak Kehidupan Sebelum Dinosaurus

Para ilmuwan yang menganalisis batu tersebut menemukan bahwa jejak kaki itu milik reptil prasejarah. Penemuan ini memicu ekspedisi lebih lanjut ke area dataran tinggi Alpen untuk mencari petunjuk lain.

Keanekaragaman Fosil yang Ditemukan

Para ahli paleontologi mengunjungi situs itu berulang kali dan akhirnya menemukan bukti adanya keseluruhan ekosistem yang berasal dari periode Permian (299 juta hingga 252 juta tahun lalu). Periode geologis ini dikenal sebagai masa dengan perubahan iklim drastis yang mengarah pada ‘Great Dying’, peristiwa kepunahan massal yang memusnahkan sekitar 90% spesies di Bumi.

Ekosistem purba yang ditemukan meliputi jejak kaki fosil dari reptil, amfibi, serangga, dan artropoda. Menariknya, jejak-jejak ini sering kali membentuk ‘jejak’ yang berurutan, menunjukkan pergerakan hewan-hewan tersebut. Di samping jejak hewan, para peneliti juga menemukan jejak kuno dari benih, daun, dan batang tanaman, serta jejak tetesan air hujan dan ombak di tepi danau prasejarah.

Proses Pelestarian Fosil yang Luar Biasa

Peran Lingkungan dalam Pengawetan

Keunikan ekosistem yang terbentuk dari batu pasir berbutir halus ini adalah tingkat pelestariannya yang luar biasa, berkat kondisinya yang sering terendam air di masa lalu. Seorang paleontolog dari Pavia University yang meneliti fosil tersebut, Ausonio Ronchi menjelaskan proses pengawetannya.

“Jejak kaki tersebut terbentuk saat batu pasir dan serpih ini masih berupa pasir dan lumpur yang terendam air di tepi sungai dan danau, yang secara berkala, sesuai musim, mengering,” ujarnya.

“Matahari musim panas, yang mengeringkan permukaan tersebut, mengeraskannya hingga kembalinya air baru tidak menghapus jejak kaki tersebut, tetapi sebaliknya, menutupinya dengan tanah liat baru, membentuk lapisan pelindung,” imbuh Ronchi.

Detail Fosil yang Mengagumkan

Butiran pasir dan lumpur yang halus mengawetkan detail-detail terkecil pada jejak, bahkan termasuk bekas cakaran dan pola dari bagian bawah perut hewan. Para peneliti memperkirakan jejak tersebut berasal dari setidaknya lima spesies hewan yang berbeda. Beberapa di antaranya diperkirakan memiliki ukuran yang cukup besar, sebanding dengan komodo modern yang bisa mencapai 2-3 meter.

“Pada saat itu, dinosaurus belum ada, tetapi hewan yang bertanggung jawab atas jejak kaki terbesar yang ditemukan di sini pasti masih berukuran cukup besar,” kata Cristiano Dal Sasso, paleontolog vertebrata di Natural History Museum of Milan yang pertama kali dihubungi mengenai penemuan ini.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Penemuan

Pencairan Es Mengungkap Fosil

Banyak jejak prasejarah yang ditemukan ini baru terungkap ke permukaan berkat dampak perubahan iklim modern yang menyebabkan lapisan es dan salju di Pegunungan Alpen mencair dengan cepat.

“Fosil-fosil ini menjadi saksi bisu periode geologis yang jauh, tetapi dengan tren pemanasan global yang sama sekali mirip dengan yang terjadi saat ini. Masa lalu mengajarkan kita banyak hal tentang risiko yang akan kita hadapi di dunia saat ini,” tutup pernyataan para peneliti

Para ahli paleontologi mengunjungi situs itu berulang kali dan akhirnya menemukan bukti adanya keseluruhan ekosistem yang berasal dari periode Permian (299 juta hingga 252 juta tahun lalu). Periode geologis ini dikenal sebagai masa dengan perubahan iklim drastis yang mengarah pada ‘Great Dying’, peristiwa kepunahan massal yang memusnahkan sekitar 90% spesies di Bumi.

Ekosistem purba yang ditemukan meliputi jejak kaki fosil dari reptil, amfibi, serangga, dan artropoda. Menariknya, jejak-jejak ini sering kali membentuk ‘jejak’ yang berurutan, menunjukkan pergerakan hewan-hewan tersebut. Di samping jejak hewan, para peneliti juga menemukan jejak kuno dari benih, daun, dan batang tanaman, serta jejak tetesan air hujan dan ombak di tepi danau prasejarah sering kali membentuk ‘jejak’ yang berurutan

    ➡️ Baca Juga: Event International Golo Mori Jazz 2025 disambut antusias warga NTT

    ➡️ Baca Juga: Rupiah Menguat Jadi Rp16.823 per Dolar AS di Kamis Pagi

    Related Articles

    Back to top button