Dampak Blokade Selat Hormuz oleh Iran Terhadap Respons Uni Eropa dan Rusia

Konflik yang berkecamuk antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Timur Tengah tampaknya memaksa Uni Eropa untuk mempertimbangkan kembali rencananya yang awalnya ditargetkan untuk mengakhiri ketergantungan pada gas alam Rusia pada tahun depan.
Menteri Energi Norwegia, Terje Aasland, mengungkapkan bahwa harga gas alam di Uni Eropa mengalami lonjakan hingga 75 persen dalam minggu ini, mencapai angka tertinggi yang tercatat dalam tiga tahun terakhir.
Kenaikan harga ini dipicu oleh tindakan militer yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan yang diluncurkan oleh Teheran di berbagai lokasi di Timur Tengah.
Serangan-serangan ini telah memaksa sebagian besar kapal tanker pengangkut gas alam cair (LNG) untuk berhenti melintasi Selat Hormuz, yang mengakibatkan Qatar, sebagai eksportir LNG terbesar kedua di dunia, menghentikan produksinya sejak Senin, 2 Maret 2026.
“Dengan kondisi geopolitik yang berkembang saat ini, saya percaya diskusi mengenai pengaktifan kembali impor gas alam dari Rusia akan muncul kembali. Ini adalah hal yang tidak dapat dihindari,” ungkap Aasland, seperti yang dilaporkan oleh Reuters pada Jumat, 6 Maret 2026.
Ia juga menambahkan bahwa Norwegia, yang merupakan penyedia gas pipa terbesar untuk Uni Eropa, sudah beroperasi pada kapasitas maksimal. Hal ini berarti tidak ada lagi tambahan produksi yang dapat ditawarkan.
Uni Eropa saat ini mengandalkan antara 5 hingga 15 persen dari total pasokan gas alamnya yang berasal dari Timur Tengah, dengan Qatar sebagai salah satu sumber utama. Dalam hal ini, AS tetap menjadi penyedia LNG dominan dengan pangsa pasar mencapai 60 persen.
Sementara itu, pada Februari 2026, Uni Eropa telah menyetujui larangan semua impor gas dari Rusia, yang sebelumnya merupakan pemasok utama bagi blok tersebut, yang direncanakan efektif pada akhir 2027, menurut laporan Bloomberg.
Langkah ini dirancang untuk mendapatkan persetujuan dari “mayoritas yang diperkuat” dari negara-negara anggota, menggunakan undang-undang perdagangan dan energi, bukan sebagai tindakan sanksi yang memerlukan persetujuan secara bulat.
Sejak mengurangi impor minyak dan gas dari Rusia setelah konflik Ukraina yang meningkat pada Februari 2022, Uni Eropa telah berulang kali menghadapi lonjakan biaya energi.
Negara-negara anggota yang tidak memiliki akses laut seperti Hungaria dan Slovakia telah mengemukakan penolakan terhadap kebijakan ini, bahkan mengancam akan membawa larangan tersebut ke pengadilan.
Goldman Sachs memperkirakan bahwa jika pengiriman gas terhenti selama satu bulan melalui Selat Hormuz, harga gas alam di seluruh Eropa dapat melonjak hingga 130 persen dari tingkat saat ini, yang akan memberikan tekanan tambahan pada rumah tangga dan sektor industri.
➡️ Baca Juga: Peningkatan Infrastruktur Pendidikan di Daerah Tertinggal Indonesia
➡️ Baca Juga: Waka MPR Dorong Setiap Kebijakan Harus Tegakkan Prinsip Kesetaraan Gender




