Fakta dan Spesifikasi Rudal Sejjil Iran dalam Kemampuannya Menyerang Israel

Memasuki minggu ketiga konflik bersenjata, Iran terus berjuang melawan Amerika Serikat dan Israel dengan intensitas yang semakin meningkat. Serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh Iran terus mengarah ke negara-negara di kawasan Teluk, termasuk Israel, menunjukkan tidak adanya tanda-tanda meredanya ketegangan.
Pada tanggal 15 Maret, Iran melanjutkan serangan dalam gelombang ke-54 dari Operasi Janji Benar 4, yang secara khusus ditujukan untuk Israel. Dalam serangan ini, Iran menargetkan berbagai pusat administrasi dan pengambilan keputusan yang memengaruhi operasi udara Israel, serta infrastruktur pertahanan dan militer yang krusial.
Dalam gelombang serangan tersebut, pejabat Iran mengungkapkan bahwa mereka untuk pertama kalinya menggunakan rudal balistik strategis Sejjil secara operasional. Pertanyaannya, apa yang membuat rudal Sejjil ini begitu istimewa dan seberapa besar ancaman yang ditawarkannya? Mari kita telusuri fakta-fakta menarik mengenai rudal ini, mengacu pada informasi terkini.
Rudal Sejjil, yang juga dikenal dengan nama Ashoura atau Ashura, adalah rudal balistik dua tahap yang menggunakan bahan bakar padat. Rudal ini sepenuhnya dirancang dan diproduksi di Iran, meskipun terdapat beberapa laporan yang menyebutkan adanya kemungkinan kontribusi teknologi dari China.
Rudal ini dikembangkan untuk menggantikan roket kelas Shabab yang telah beroperasi sejak akhir 1980-an. Dengan jangkauan sekitar 2.000 kilometer dan menggunakan bahan bakar padat sebagai pendorong, Sejjil memiliki keunggulan dalam kecepatan peluncuran dibandingkan dengan rudal berbahan bakar cair.
Dari segi spesifikasi, rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter dan diameter 1,25 meter. Beratnya mencapai 23.600 kilogram dan dapat membawa hulu ledak seberat 700 kilogram. Sejjil mampu mengangkut baik bahan peledak konvensional maupun hulu ledak nuklir, menjadikannya senjata yang sangat berbahaya.
Meskipun informasi mengenai kecepatannya sangat terbatas, Teheran pernah menyatakan bahwa rudal ini mampu menjangkau Tel Aviv dalam waktu sekitar tujuh menit jika diluncurkan dari wilayah pusat Iran. Kecepatan dan efisiensi ini menambah dimensi baru dalam analisis strategi pertahanan.
Salah satu keunggulan utama dari rudal Sejjil adalah kemampuannya untuk bermanuver di setiap tahap penerbangan. Kemampuan ini membuatnya menjadi target yang sulit untuk sistem pertahanan udara konvensional, termasuk sistem Iron Dome milik Israel. Karena kemampuannya yang lincah, rudal ini dijuluki “Dancing Missile” atau “rudal menari.”
Dengan segala spesifikasi dan kemampuannya, rudal Sejjil menjadi salah satu aset strategis penting dalam arsenal militer Iran. Keberadaannya tidak hanya menambah kekuatan pertahanan Iran, tetapi juga menjadi faktor penentu dalam dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama dalam konteks ketegangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Rudal Sejjil tidak hanya merupakan simbol dari kemajuan teknologi militer Iran, tetapi juga mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara tetangga dan kekuatan global dalam upaya menjaga stabilitas regional. Dengan terus berkembangnya teknologi rudal, ancaman yang ditimbulkan oleh sistem senjata semacam ini akan tetap menjadi fokus perhatian dunia internasional.
Melihat perkembangan yang ada, penting bagi semua pihak untuk memahami implikasi dari keberadaan rudal Sejjil dan senjata serupa. Hal ini bukan hanya terkait dengan kekuatan militer, tetapi juga dengan diplomasi dan strategi keamanan yang lebih luas di kawasan yang sudah rentan terhadap konflik.
➡️ Baca Juga: Pendaftar Maba Unismuh Naik, Promosi Digital Diperkuat
➡️ Baca Juga: Tasya Kamila Buka Suara Soal Perselingkuhan dengan Syahrini




