Penerima Dana Dharmais Dibalik Sukses Mobil Kiat Esemka

0
111

MOBILKiat Esemka menarik perhatian masyarakat Indonesia. Ada pro dan kontra, namun memunculkan semangat nasionalisme di tengah membanjirnya produk impor, mulai dari jarum hingga barang produksi, pakaian lengkap dengan mode mutakhirnya, dan dari garam hingga mobil mewah seharga 1.000 ekor kerbau.

Haji Sukiyat, 55, tokoh dibalik sukses mobil buatan anak-anak SMK; sehingga nama keduanya ditempatkan menjadi Kiat Esemka. Pria setengah abad yang salah satu kakinya terserang polio, memiliki semangat baja. Merintis pembuatan mobil dari bengkelnya yang sederhana di Desa Kradenan, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah,

Tahun 1977 Sukiyat memperoleh bantuan dari Yayasan Dharmais sebesar Rp75.000. Bantuan modal itulah digunakan untuk membuka bengkel di kampung halamannya. Awalnya bengkel sederhana yang hanya melayani perbaikan sepeda motor dan sepeda onthel (kayuh). Seiring perjalanan waktu lama-kelamaan bengkel itu berkembang sampai menempati lahan seluas 4.500 meter persegi.

Tahun 2004, ia membangun bengkel di Jalan Solo-Yogyakarta, tepatnya di Ngaran, Mlese, Ceper, Klaten, menempati lahan seluas 2.500 meter persegi. Kedua bengkel tersebut kini dikelola anak pertamanya, Ida Hartono.

Tahun 2012 Sukiyat berencana mendirikan bengkel baru di kawasan Manahan, Solo. Bengkel yang dipadukannya dengan pusat pelatihan bagi penyandang cacat, yakni Difabel Training Center, lengkap dengan asrama. Di komplek dengan lahan seluas 8.500 meter persegi ini juga akan didirikan pompa bensin dan restoran cepat saji.

”Keinginan saya mencetak tenaga andal di bidang otomotif dan body repair dari para penyandang cacat. Ini agar mereka tak perlu turun ke jalan menjual kecacatannya. Dana pendidikan mereka akan dicarikan pemerintah daerah dan pusat,” katanya.

Saat kecil Sukiyat sempat merasa minder, bahkan nekat keluar dari sekolah sebelum menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah karena tak tahan dengan ejekan teman-temannya.Setelah keluar, ia lalu belajar menjahit di Rehabilitasi Centrum Prof Dr Soeharso, Solo, selama enam bulan.

Keterampilan ini membawanya ke Jakarta untuk bekerja di usaha konfeksi dan percetakan yang dimiliki Yayasan Harapan Kita. ”Saya bekerja di bagian obras dan setting huruf,” ujarnya.

Dua tahun bekerja di ibukota orangtuanya meminta Sukiyat kembali ke kampung halaman. Tinggal di Solo dan bekerja di bengkel, empat bulan bekerja, bengkel bangkrut. Dia lantas bekerja di bengkel lain yang didirikan mantan teman sekerjanya.

Di bengkel itulah kemampuan di bidang otomotif nya berkembang. Keterampilannya semakin terasah saat berkesempatan mengikuti pelatihan otomotif ke Jepang dan Jerman yang dibiayai Departemen Sosial.

Dalam mengembangkan bengkelnya, Sukiyat memilih spesialisasi di bidang cat oven dan body repair. Pengalaman masa kecil sering diminta orangtuanya untuk membuat pewarna kain lurik bermanfaat saat diterapkan dalam pengecatan mobil. Demikian pula pengalamannya saat membantu orangtua bekerja di penggilingan padi dan oven tembakau. Tugas yang diberikan orangtuanya itu membuatnya terbiasa bekerja keras.

Dia mengaku bisa bekerja selama 24 jam sehari. Otaknya tak berhenti memikirkan pengembangan bisnisnya. ”Pekerjaan itu seperti istri. Kalau istri sakit, ya, ditunggu, dirawat, jangan lantas kita ganti istri. Begitu juga dengan pekerjaan,” ujarnya.

Niteni (memerhatikan), nirokke (meniru), dan nambahi (menambahkan) menjadi modal . Sering disebutnya ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Pedoman itu diamatinya dari pekerja Jepang, Korea, dan China saat dulu mereka memulai industri mobil nasionalnya. ”Kalau sekarang kita punya mobil buatan sendiri, ya, harus berani menghargai produk kita sendiri,” tegasnya.

Meski pekerja keras, Sukiyat berusaha tetap berimbang untuk kehidupan berkeluarga. Shalat berjamaah dan membina keakraban dengan semua anggota keluarga. Setiap Jumat berziarah ke makam ayahnya dan menjenguk sang bunda. Sebulan sekali menggelar evaluasi, baik bersama keluarga maupun karyawan. Mengadakan pengajian dan pemeriksaan kesehatan gratis lewat Klinik Ahad Pagi Kiat Sehat. (djo)

Sumber : Harian Pelita 10 Januari 2012

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here