Dharmais Gairahkan Anak Panti

0
53

KOMITMEN Yayasan Dharmais yang didirikan oleh Presiden HM Soeharto hingga kini tetap memberikan perhatian kepada masyarakat. Tidak hanya menyediakan perpustakaan keliling dengan mengerahkan sejumlah mobil, tetapi anak-anak panti asuhan masih diberikan bantuan.

Selain bantuan dana, Yayasan Dharmais juga memberikan bantuan berupa pakaian dan keperluan anak-anak asuh lainnya. Bahkan di banyak kota dan kabupaten, Yayasan Dharmais memberikan pelatihan keterampilan kepada anak-anak putus sekolah. Dalam bidang kesehatan, Yayasan Dharmais memberikan bantuan operasi dan pengobatan gratis untuk operasi katarak dana ratusan operasi bibir sumbing.

Untuk membantu mempersiapkan remaja dan pemuda menjadi generasi pembangunan yang potensial, Yayasan Dharmais, juga memberikan pelatihan usaha produktif bagi pemuda santri, baik di Bogor (Jawa Barat), Pengasihan (Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta), Takeran (Magetan, Jawa Timur), dan lain-lainnya.

Yayasan Dharmais, yang saat ini diketuai mantan Menteri Agama

Dr M Maftuh Basyuni, telah bekerja keras membantu sebanyak 1.612 Panti Asuhan di seluruh Indonesia. Dengan mengasuh sebanyak 46.775 anak yatim piatu. Mereka rata-rata telantar dan tidak mempunyai keluarga lagi. Bantuan yang disalurkan pun mencapai lebih dari Rp28 miliar setahun.

Menurut Ketua Forum Komunikasi Panti Asuhan Penerima Bantuan Yayasan Dharmais (FKPPD) Provinsi Jawa Timur KH Maksum, bantuan yang diberikan oleh Yayasan Dharmais, senantiasa dinanti anak santri maupun anak panti.

“Kalau bantuan ini dihentikan atau ada pihak yang mengobak-obok yayasan sehingga bantuan dihentikan, maka nasib anak-anak yang selama ini diasuh oleh ratusan panti itu akan sangat menderita. bantuan ini menggairhkan anak-anak panti,” kata KH Maksum.

Selama ini setiap tahun Yayasan Dharmais di Jawa Timur telah menyalurkan bantuan kepada 334 panti dengan penghuni sebanyak 11.965 anak. Jumlah bantuan uang yang disalurkan setiap tahun mencapai hampir Rp8 miliar, atau sekitar Rp2 miliar setiap kwartalnya.

Kini, dikembangkan lagi kegiatan pemberdayaan bagi anak panti dan santri serta pelatihan koperasi. Tujuannya, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengentasan kemiskinan, khususnya kepada anak/keluarga yang tinggal di panti.

“Alhamdulillah, bantuan dari yayasan yang didirikan Pak Harto sangat membantu kami,” tutur KH Maksum seraya menyebut “Pak Harto adalah Presiden terbaik di Indonesia”

Sudah 37 tahun lebih Yayasan Dharmais yang berdiri 8 Agustus 1975, tanpa kenal lelah melaksanakan tugas-tugasnya sesuai yang dicita-citakan oleh para pendirinya yaitu HM Soeharto, H Sudharmono, dan H Bustanil Arifin, agar Yayasan Dharmais tetap konsisten membantu masyarakat kurang mampu terutama para penghuni panti-panti asuhan dan panti-panti sosial dalam kondisi apapun.

Kegiatan sosial, seperti menanam pohon dan perpustakaan dimaksudkan ingin mengajak masyarakat terutama untuk anak-anak usia sekolah agar dapat menjadikan membaca sebagai budaya dan kebutuhan, sebab dengan membaca akan banyak pengetahuan yang didapat seperti pepatah “buku adalah jendela ilmu”.

Pada acara ini Pengurus Yayasan memberikan penghargaan kepada anak-anak di Komplek Seroja Bekasi yang rajin dan aktif menjadi angggota Perpustakaan Yayasan Dharmais.

Hibah rumah
Ketika berkunjung ke Wisma Seroja, Kota Bekasi Utara (Jabar) banyak cerita suka maupun duka pejuang Seroja, yang dulu membantu rakyat Timor Timur menghadapi pemberontak Fretelin.

Selamat dari maut yang menjemput kala perang merupakan karunia yang harus disyukuri. Namun, kecacatan kadang tidak terelakkan akibat peluru-peluru yang mengincarnya. Hidup dengan kondisi cacat sedikit banyak menghalangi produktivitas mereka. Apalagi jika cacatnya parah, 100 persen hidupnya tergantung pada keluarga. Untuk menghargai perjuangan, Yayasan Dharmais menghibahkan rumah sebagai tempat bernaung bagi mereka dan keluarganya.

Salah seorang pejuang, Suwarno, yang saat itu mengenakan kaos singlet dan sarung, serta sebuah tongkat bersandar di tangan kirinya, banyak mengisahkan perjuangannya.

Perlawanannya menghadapi Fretelin membuat kaki kanannya harus diamputasi sebatas lutut. Kedua matanya juga sempat tidak bisa melihat selama dua bulan. “Saya kira, saya akan buta,” kenangnya.

Masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Rasa nyeri masih menggerogoti persendiannya pasca-operasi. Di beberapa tempat timbul benjolan akibat banyak minum obat.

Buntung kakinya tidak menghalangi untuk berkarya. Sebagai koordinator terminal bus, pekerjaannya tidak membutuhkan banyak gerakan fisik. Letak terminal yang ada di bagian depan Perumahan Seroja juga membuat aksesnya mudah. Perannya yang juga menertibkan keamanan di terminal membuatnya dekat dengan pihak polisi.
“Terima kasih Yayasan Dharmais dan jangan berhenti memberikan bantuan,” ujarnya.(dew)

Sumber : Harian Pelita 6/3/2012

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here